 |
| SPKLU Astra Infra(dok.Astra) |
SensorNewsMedia.Id - Jakarta. Salah satu kebiasaan yang sering dilakukan pemilik mobil listrik baru, adalah mengisi daya baterai hingga penuh setiap kali berhenti di Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU).
Wakil Ketua Umum Bidang Hubungan Masyarakat dan Edukasi Perkumpulan Industri Kendaraan Listrik Indonesia (Periklindo), Achmad Rofiqi, mengatakan, padahal, cara tersebut tidak selalu menjadi pilihan paling efisien.
Sesuai Kebutuhan
Menurutnya, pengisian daya kendaraan listrik sebaiknya disesuaikan dengan kebutuhan perjalanan dan kapasitas baterai yang tersisa, bukan semata-mata mengejar angka 100 persen.
"Sebenarnya tidak perlu selalu mengisi baterai sampai penuh di SPKLU. Selain lebih praktis, biaya pengisian di rumah juga biasanya lebih murah," kata Rofiqi kepada Kompas.com, di Bekasi, pekan lalu.
 |
Mobil listrik yang menjadi kendaraan operasional di lingkungan Pemerintah Kota Surabaya. (ANTARA/HO-Pemkot Surabaya)
Menurut dia, pengguna kendaraan listrik perlu mulai mengubah pola pikir dalam mengisi daya.Sebab kendaraan listrik justru lebih efektif jika pengisiannya disesuaikan dengan kebutuhan jarak tempuh.
Rofiqi mencontohkan, ketika melakukan perjalanan dari Jakarta ke Bandung, Jawa Barat, dengan kapasitas baterai yang masih cukup, pengisian daya tidak harus dilakukan hingga penuh.
"Contohnya, ketika saya bepergian bersama saudara ke Bandung dan melihat kapasitas baterai masih sekitar 37 persen, saya tetap berangkat. Kalau memang perlu mengisi daya di SPKLU area istirahat, cukup sampai 70 atau 80 persen, lalu perjalanan dilanjutkan.
Bahkan masih bisa digunakan untuk perjalanan pulang," ujarnya. Menurut Rofiqi, kekhawatiran kehabisan daya atau range anxiety memang masih sering dirasakan oleh pengguna yang baru beralih ke kendaraan listrik.
Namun, seiring bertambahnya pengalaman, pengguna akan lebih memahami pola penggunaan kendaraan dan kebutuhan energinya.
"Bagi orang yang baru beralih ke kendaraan listrik, rasa waswas dan kekhawatiran itu wajar. Namun, seiring waktu mereka akan terbiasa dan mulai memahami pola penggunaannya," kata Rofiqi.
Semakin Mudah Ia menjelaskan, saat ini proses pengisian daya juga semakin mudah karena terintegrasi dengan berbagai aplikasi, termasuk aplikasi PLN.
Karena itu, pengguna dapat memperkirakan kebutuhan energi sebelum melakukan pengisian. "Sekarang pengisian daya juga sudah lebih mudah karena bisa dilakukan melalui aplikasi PLN.
Sama seperti saat membeli bahan bakar, kita juga bisa menghitung kebutuhan energi yang diperlukan, tidak harus selalu mengisi penuh," ujarnya.
Rofiqi menilai, selain mempertimbangkan kebutuhan perjalanan, pengisian hingga 100 persen di SPKLU juga tidak selalu efisien dari sisi waktu.
|
0 komentar:
Posting Komentar