SensorNewsMedia.Id - Jakarta. Eskalasi politik nasional memanas setelah beredarnya foto viral mantan Presiden Joko Widodo (Jokowi) menginjak kepala kerbau saat menjalani prosesi penganugerahan gelar adat adat "Baginda Pemuka Bangsa" di Kedaton Keagungan Lampung. Momen ritual tersebut terjadi di sela-sela safari politik perdana Jokowi bersama Partai Solidaritas Indonesia (PSI) untuk memetakan target besar dan ambisi pemenangan pada Pemilu 2029.
Kendati aksi simbolis ini memantik berbagai spekulasi publik, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P) menanggapi manuver politik tersebut secara santai dan menegaskan tidak gentar sama sekali.
Komentar Santai PDI-P: "Bukan Banteng!"
Pihak internal PDI-P memilih untuk merespons polemik visual ini tanpa rasa khawatir. Ketua DPP PDI-P
Komarudin Watubun menegaskan bahwa simbol yang diinjak oleh Jokowi dalam ritual adat tersebut bukanlah banteng, melainkan kerbau.
"Yang diinjak itu kepala kerbau, bukan banteng. Kalau banteng yang diinjak baru kami bereaksi," ujar Komarudin dengan nada santai. Sentilan serupa juga muncul dari internal partai yang menyebut bahwa kerbau memang komoditas peternakan, berbeda jauh dari lambang banteng moncong putih milik PDI-P.
Senada dengan itu, Ketua DPP PDI-P
Ganjar Pranowo menyatakan partainya sangat menghormati hak berserikat setiap warga negara dan tidak ingin mencampuri ambisi internal partai lain. “Kami menghormati hak setiap warga negara dalam berserikat dan berkumpul. Masing-masing punya cita-cita. Kami tidak mencampuri urusan rumah tangga orang lain,” jelas Ganjar.
+-------------------+-----------------------------------------+-----------------------------------------+
| Konteks Politik | Manuver Jokowi & PSI | Respons Resmi PDI-P |
+-------------------+-----------------------------------------+-----------------------------------------+
| Aksi Simbolis | Menginjak kepala kerbau di Lampung | "Bukan banteng, kami tidak terganggu" |
| Target Pemilu | Membidik target rahasia & besar di 2029 | "Menghormati hak berserikat partai lain"|
| Dampak Suara | Safari keliling daerah demi PSI | "Logikanya, dulu jadi Presiden saja gagal"|
+-------------------+-----------------------------------------+-----------------------------------------+
Kritik Tajam Sikap Feodal dan Ambisi Keluarga
Meski ditanggapi santai dari aspek elektoral, politikus PDI-P
Mohamad Guntur Romli melontarkan kritik ideologis yang tajam. Menurut Guntur, momen injak kepala kerbau tersebut justru memperlihatkan tabiat politik feodal layaknya seorang raja demi melanggengkan ambisi dinasti politik.
"Kepala kerbau yang diinjak melambangkan para pengikut Jokowi dan PSI yang terbuai di balik perilaku raja, padahal yang ada adalah ambisi kekuasaan tanpa batas untuk keluarga Jokowi," kata Guntur Romli.
PDI-P menilai langkah Jokowi turun gunung ke daerah-daerah murni demi mengamankan masa depan anak-anaknya. Strategi jangka panjang ini diduga kuat disiapkan untuk meloloskan PSI—yang dipimpin putra bungsunya, Kaesang Pangarep—ke Senayan, sekaligus menyusun sekoci politik baru bagi Gibran Rakabuming Raka menuju Pemilu 2029.
PDI-P Nilai Efek Elektoral Jokowi Sudah Habis
Terkait ancaman tergerusnya basis suara banteng akibat safari politik Jokowi, PDI-P mengaku tidak ambil pusing. Mengingat status Jokowi yang sudah resmi dipecat dari PDI-P, partai pimpinan Megawati Soekarnoputri ini melihat daya tawar politik sang eks presiden sudah jauh menurun pasca-lengser.
“Secara logika sederhana saja, waktu Jokowi masih menjabat sebagai Presiden aktif tidak mampu meloloskan PSI ke Parlemen pada Pemilu 2024, apalagi kini ketika sudah tidak memegang kekuasaan apa-apa,” pungkas
Guntur Romli optimistis. PDI-P pun memilih tetap fokus merapatkan barisan mesin partainya sendiri ketimbang mengkhawatirkan gerakan politik pihak luar.
0 komentar:
Posting Komentar