SensorNewsMedia.Id - Jakarta. Pemerintah Indonesia berencana mengubah Bandara Internasional Kertajati di Jawa Barat yang kurang optimal penggunaannya menjadi pusat regional untuk perawatan pesawat militer Hercules atas permintaan Amerika Serikat. Menurut para pengamat, rencana tersebut bisa mendatangkan manfaat ekonomi bagi Indonesia.
Namun, para pengamat juga memperingatkan bahwa rencana tersebut akan memunculkan keraguan soal prinsip luar negeri bebas aktif dan non-blok yang selama ini dipegang teguh Indonesia. Pasalnya, Indonesia kemungkinan semakin masuk ke dalam arsitektur militer Amerika Serikat di kawasan Indo-Pasifik.
Para pakar menambahkan, usulan tersebut juga menuai kontroversi karena hingga kini pemerintah Indonesia belum memberikan rincian yang jelas mengenai rencana itu.
“Kalau bicara geopolitik, ini menjadi persoalan karena kita belum tahu sebenarnya seperti apa rencana tersebut,” kata Yohanes Sulaiman, pakar pertahanan dan hubungan internasional dari Universitas Jenderal Achmad Yani di Jawa Barat.
“Ini bisa saja berupa sebuah hub (pusat), atau sekadar fasilitas perawatan. Itu pertanyaan besarnya.”
| Pesawat Hercules milik TNI Angkatan Udara berada di Bandara Internasional Kertajati |
SEPERTI APA RENCANANYA
Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin mengungkapkan rencana tersebut dalam rapat bersama anggota DPR pada akhir Mei lalu.
Sjafrie mengatakan, saat bertemu Menhan Amerika Serikat Pete Hegseth dalam pertemuan ASEAN Defence Ministers Meeting-Plus (ADMM-Plus) tahun lalu, Hegseth menyampaikan sebuah tawaran yang dinilainya unik kepada Indonesia.
“Dia menawarkan, ‘Bagaimana kalau pemeliharaan C-130 di seluruh Asia saya pusatkan di Indonesia atas biaya kami?’. Saya lapor (ke) Bapak Presiden, ‘kasih Kertajati’. Nah kita sedang bekerja untuk itu,” kata Sjafrie.
Sejauh ini belum ada rincian lebih lanjut yang diungkapkan. Belum jelas pula apakah rencana tersebut secara khusus ditujukan untuk pesawat C-130 milik AS.
C-130 Hercules merupakan pesawat angkut militer bermesin turboprop yang digunakan banyak angkatan udara di berbagai negara karena kemampuannya yang fleksibel dalam mendukung operasi angkut udara taktis.
Pesawat ini pertama kali diperkenalkan pada 1950-an dan hingga kini pabrikan asal AS, Lockheed Martin, telah memproduksi puluhan variannya.
Menurut analis pertahanan dari Marapi Consulting and Advisory, Alman Helvas Ali, rencana tersebut tidak serta-merta menjadikan Kertajati sebagai pangkalan militer AS.
Menurut dia, berdasarkan informasi yang diperolehnya dari pihak-pihak yang mengetahui pembahasan tersebut, usulan itu berkaitan dengan kemampuan perawatan pesawat Hercules C-130J generasi terbaru, bukan varian Hercules lama yang perawatannya sudah ditangani oleh fasilitas lain di kawasan.
Jika benar demikian, maka Kertajati tidak akan berfungsi sebagai hub militer karena hanya melayani pesawat C-130J.
Menanggapi pertanyaan CNA, Kementerian Pertahanan Indonesia mengatakan belum dapat membagikan informasi lebih rinci pada tahap ini.
“Kedua pihak membahas peluang kerja sama dalam perawatan, perbaikan, dan “overhaul” (maintenance, repair and overhaul/MRO) pesawat Hercules atau C-130 yang saat ini masih berada pada tahap awal penjajakan,” kata juru bicara Kementerian Pertahanan Rico Sirait kepada CNA pada 5 Juni.
“Saat ini belum ada keputusan final terkait model kerja sama, skema pembiayaan, cakupan layanan, target operasional, maupun aspek teknis lainnya.”
Rico menambahkan, seluruh aspek tersebut masih memerlukan pembahasan lebih lanjut antara pihak-pihak terkait dengan tetap mempertimbangkan kepentingan nasional Indonesia.
Menurut Alman, peran pemerintah kemungkinan besar hanya sebagai fasilitator dalam skema kerja sama antarbisnis (business-to-business), sementara Lockheed Martin akan memberikan bantuan teknis kepada mitra lokal.
Alman menganggap rencana tersebut lebih tepat dipandang sebagai proyek komersial, sehingga berbeda dengan pembangunan fasilitas perawatan militer milik AS sendiri di Indonesia.
Menurut dia, persoalan utamanya adalah pemerintah belum menjelaskan rencana tersebut secara memadai, termasuk siapa yang akan memiliki fasilitas itu, siapa yang akan mengendalikan akses, apakah personel militer AS akan ditempatkan di sana, serta peran apa yang akan diberikan kepada perusahaan-perusahaan Indonesia.
Tanpa kejelasan mengenai hal-hal tersebut, isu ini rentan memicu apa yang disebutnya sebagai “paranoia” di kalangan publik. Ia merujuk pada kontroversi yang muncul seputar rencana tersebut, termasuk pertanyaan mengenai apa yang harus diberikan Indonesia sebagai imbalan jika pendanaannya berasal dari AS.
Yohanes Sulaiman dari Universitas Jenderal Achmad Yani di Jawa Barat mengemukakan pandangan serupa.
“Semuanya sangat bergantung pada isi kesepakatannya. Lagi pula, fasilitas perawatan Hercules tidak hanya ada di satu tempat,” kata Yohanes.
“Fasilitas seperti itu tidak hanya ada di Indonesia, tetapi juga di Jepang, Kanada, dan Australia, misalnya.”
MENGAPA KERTAJATI?


0 komentar:
Posting Komentar