| Ilustrasi penipuan berkedok asmara atau "love scam". |
SensorNewsMedia.Id - Semarang. Kepolisian Daerah Jawa Tengah membongkar sindikat penipuan daring jaringan internasional berkedok asmara atau love scam yang menargetkan warga Amerika Serikat. Sebanyak 39 orang ditetapkan sebagai tersangka, termasuk seorang mantan figur publik berinisial F yang berperan sebagai model untuk meyakinkan korban melalui panggilan video.
Direktur Reserse Siber Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Himawan Sutanto Saragih mengatakan, sindikat tersebut menjalankan modus pig butchering, yakni membangun hubungan emosional dengan korban sebelum mengarahkan mereka berinvestasi pada platform kripto yang telah dimanipulasi.
“Setelah korban merasa percaya dan memiliki kedekatan emosional, barulah ditawarkan investasi dengan iming-iming keuntungan tinggi. Inilah yang membuat banyak korban sulit menyadari bahwa mereka sedang menjadi sasaran penipuan,” kata Himawan saat jumpa pers pada Selasa (2/6) seperti dikutip Kompas.id.
Menurut penyidik, kelompok tersebut beroperasi sejak Juli 2025 hingga Mei 2026 dan diduga telah menipu sedikitnya 133 warga Amerika Serikat dengan total kerugian mencapai US$2,32 juta atau sekitar Rp41,1 miliar.
Kasus ini terungkap setelah polisi melakukan patroli siber dan mendeteksi aktivitas penipuan yang menyasar laki-laki warga AS melalui aplikasi kencan daring dan media sosial.
Modusnya dimulai dengan pencarian calon korban menggunakan identitas palsu. Ketika korban merespons, percakapan dipindahkan ke aplikasi pesan pribadi untuk membangun kedekatan emosional.
“Setelah mendapat kepercayaan, pelaku meminta korban menginvestasikan uangnya pada platform kripto yang sistemnya telah dimanipulasi. Hanya dalam kurun waktu setahun terakhir, para pelaku mengantongi Rp41,1 miliar dari sedikitnya 133 korban,” ujar Himawan.
| Ilustrasi penipuan berkedok asmara atau "love scam". |
Sebagaimana dilaporkan Kumparan, dalam struktur operasinya, sindikat ini memiliki sejumlah peran berbeda, mulai dari asisten pemasaran (assistant marketing), pemasar (marketing), model perempuan, hingga pemimpin jaringan (leader).
Asisten pemasaran bertugas mencari target melalui aplikasi kencan dan media sosial, kemudian mengarahkan mereka ke jalur komunikasi yang lebih privat. Setelah itu, korban diserahkan kepada tim pemasaran yang melanjutkan pendekatan dan meyakinkan korban untuk berinvestasi.
“Marketing yang menyiapkan foto dan video perempuan untuk merayu korban agar mau menginvestasikan uangnya pada platform kripto,” kata Himawan.
Untuk memperkuat kepercayaan korban, sindikat tersebut juga menggunakan model perempuan yang akan tampil saat korban meminta melakukan panggilan video. Salah satu yang menjalankan peran tersebut adalah F, mantan artis yang kini menjadi tersangka.
“Jadi, yang mencari korban melalui aplikasi kencan seperti Facebook, Tinder, itu para tersangka yang berperan sebagai marketing. Rata-rata laki-laki. Namun, untuk membuat korban percaya, F ini yang melakukan panggilan video,” kata Himawan.
Selain itu, terdapat empat orang leader yang mengendalikan operasi. Mereka bertugas menyediakan perangkat komunikasi, mengarahkan strategi operasional, sekaligus mengontrol platform investasi agar dana yang telah disetorkan korban tidak dapat ditarik kembali.
Polisi juga menangkap seorang tersangka yang diduga menyediakan tempat, sarana, dan prasarana untuk menjalankan operasi tersebut. Menurut penyidik, sindikat menggunakan tujuh lokasi di Sukoharjo dan Surakarta, terdiri atas satu kantor dan enam rumah indekos.
“Lokasi itu diduga merupakan tempat perekrutan pekerja sekaligus pusat operasional utama meskipun ada sebagian pelaku menjalankan aksinya langsung dari rumah indekosnya untuk mengaburkan aktivitas mereka,” kata Himawan.
Markas utama sindikat itu sebelumnya digerebek polisi di sebuah gedung di kawasan Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo. Dari hasil penyelidikan, kelompok tersebut menyamarkan aktivitasnya dengan menggunakan nama perusahaan PT Digi Global Konsultan.
Dari total tersangka, polisi menetapkan 28 warga negara Indonesia, tujuh warga negara Nepal, dan empat warga negara Myanmar. Mereka diduga menerima bayaran antara Rp15 juta hingga Rp20 juta per bulan, tergantung posisi masing-masing dalam organisasi.
BEKERJA SAMA DENGAN FBI
Karena mayoritas korban berasal dari Amerika Serikat, Polda Jawa Tengah kini bekerja sama dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) melalui Sekretariat National Central Bureau Interpol Indonesia dan Badan Reserse Kriminal Polri.
“Kami juga bekerja sama dengan FBI untuk mengungkap kasus ini. Kami bersama FBI akan terus melakukan pendalaman karena sebagian besar korban merupakan warga Amerika Serikat,” kata Himawan.
Polisi juga berkoordinasi dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri aliran dana perbankan dan aset kripto yang terkait dengan kasus tersebut, serta dengan Direktorat Jenderal Imigrasi untuk menangani para tersangka warga negara asing.
Kepala Bidang Humas Polda Jawa Tengah Komisaris Besar Artanto mengatakan, pengungkapan kasus ini menunjukkan semakin kompleksnya kejahatan siber lintas negara.
“Apalagi, jika mereka mulai menunjukkan gelagat mengarahkan percakapan pada investasi, kripto, atau penawaran keuntungan yang tidak wajar. Di era digital ini, kewaspadaan tinggi dan literasi digital yang matang adalah benteng utama agar kita tidak menjadi korban kejahatan siber,” ujarnya.
0 komentar:
Posting Komentar