Senin, 25 Mei 2026

Bagaimana Kunjungan Beruntun Trump dan Putin Menempatkan China di Pusat Diplomasi Kekuatan Besar


Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping berjabat tangan usai pertemuan di Balai Agung Rakyat, Beijing, 20 Mei 2026. Presiden AS Donald Trump dan Xi Jinping menghadiri acara di lokasi yang sama pada 14 Mei 2026.


SensorNewsMedia.Id - Beijing. Untuk sesaat, situasinya tampak seperti deja vu.

Hanya beberapa hari setelah kunjungan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan pertemuannya dengan Presiden China Xi Jinping, Presiden Rusia Vladimir Putin disambut dengan kemegahan dan seremoni yang hampir serupa — penghormatan 21 dentuman meriam, deretan anak-anak yang mengibarkan bendera, serta teriakan “selamat datang” di luar Balai Agung Rakyat pada Rabu (20/5).

Namun, para analis mengatakan, kesamaan itu berhenti sampai di sana: Perjalanan Trump bertujuan mengelola ketegangan dalam rivalitas paling penting di dunia, sementara kunjungan Putin lebih ditujukan untuk menegaskan kembali salah satu kemitraan strategis terpenting China.

Berbeda dengan kunjungan Trump, perjalanan Putin diakhiri dengan sesuatu yang justru tidak terlihat beberapa hari sebelumnya: upacara penandatanganan resmi dan pernyataan bersama.

Meski waktunya mungkin bukan sepenuhnya dirancang Beijing, simbolismenya sulit diabaikan: Dua pemimpin dunia yang paling disorot datang ke China hanya dalam hitungan hari.

Hasilnya adalah pertunjukan diplomatik ganda yang jarang terjadi, membuat Beijing tampak sebagai kekuatan yang sama-sama ingin didekati Washington maupun Moskow.

“Efek dari menjadi tuan rumah bagi pemimpin AS dan Rusia hampir secara bersamaan kemungkinan besar meningkatkan citra Xi,” kata Michael Clarke, lektor kepala di Centre for Future Defence and National Security, Deakin University.

“Hal ini memproyeksikan (China) sebagai kekuatan yang ingin didekati, diajak bekerja sama, atau diajak bernegosiasi oleh kekuatan besar lain dalam sistem internasional,” ujar Clarke.

SATU KARPET MERAH, DUA PESAN BERBEDA

Waktu kunjungan itu mungkin kebetulan, kata para analis, tetapi simbolisme dari kunjungan Trump dan Putin secara beruntun sangat mencolok.

Philipp Ivanov, pendiri firma penasihat risiko geopolitik GRASP, mengatakan, kunjungan Putin terkait dengan peringatan 25 tahun China-Russia Treaty of Good-Neighborliness and Friendly Cooperation, yang membuat kedua pihak melepaskan klaim wilayah di sepanjang perbatasan 4.300 km mereka. Kesepakatan itu membuka jalan bagi negosiasi lanjutan dan menjadi fondasi hubungan yang semakin erat.

Sebaliknya, kunjungan Trump ke Beijing tertunda akibat perang Iran, katanya.

“Ini sedikit memperkuat pandangan mengenai sentralitas dan pentingnya China,” ujar Ivanov, seraya menambahkan bahwa Beijing telah “memainkan kartu diplomatiknya dengan sangat baik” di tengah meningkatnya persaingan geopolitik.

Kedua kunjungan tersebut memberi Beijing keuntungan diplomatik yang sangat berbeda, kata para analis.

China dan Rusia mengeluarkan komunike bersama mengenai pendalaman koordinasi strategis, menurut keterangan resmi kedua negara.

Simbolismenya bahkan lebih dalam lagi: Tahun ini menandai 30 tahun kemitraan strategis Beijing dan Moskow.

Kedua pihak juga menandatangani serangkaian dokumen kerja sama. Media pemerintah Rusia Sputnik menyebut jumlahnya mencapai 42 dokumen. Bidang yang dicakup, antara lain, perdagangan, teknologi, media, dan energi.

Energi menjadi fokus utama. Pejabat Rusia mengatakan Moskow dan Beijing sepakat mempercepat implementasi proyek pipa gas Power of Siberia 2 yang telah lama dibahas, yang akan menyalurkan gas Rusia dari Siberia barat ke China melalui Mongolia.

Namun, proyek itu tampaknya masih belum mencapai kesepakatan komersial final, dengan detail penting seperti harga yang belum disepakati. Pernyataan resmi China tidak secara langsung menyebut Power of Siberia 2.

Besarnya delegasi Rusia juga menunjukkan pentingnya kunjungan tersebut bagi Moskow.

Pejabat Rusia mengatakan Putin didampingi delegasi yang mencakup lima wakil perdana menteri — Denis Manturov, Tatiana Golikova, Alexander Novak, Yury Trutnev, dan Dmitry Chernyshenko — serta pejabat senior dan menteri, termasuk Menteri Luar Negeri Sergei Lavrov, Menteri Keuangan Anton Siluanov, dan Menteri Pembangunan Ekonomi Maxim Reshetnikov.

Kunjungan Putin tampak lebih intim dan berorientasi pada hasil, kata Clarke dari Deakin University, merujuk pada penggunaan istilah “sahabat lama” dalam pemberitaan China, bersama diplomasi minum teh, sesi foto, dan penandatanganan kesepakatan.

Sebaliknya, kunjungan Trump lebih berfokus pada stabilisasi hubungan yang dipandang Beijing jauh lebih penting sekaligus lebih tidak stabil, terutama terkait perdagangan, kontrol ekspor, dan Taiwan, kata Ivanov dari GRASP.







Dalam keterangan resmi China, Xi dan Trump sepakat membangun hubungan berdasarkan “stabilitas strategis konstruktif”, formulasi yang menurut Beijing akan menjadi panduan hubungan kedua negara dalam tiga tahun ke depan dan seterusnya.

Pihak AS lebih menyoroti hasil konkret. Trump mempromosikan capaian perdagangan dan bisnis, sementara pejabat AS mengatakan kedua pemimpin sepakat bahwa Selat Hormuz harus tetap terbuka dan Iran tidak boleh memiliki senjata nuklir.

“TEATER ADIDAYA”

Bagi Beijing, kedua kunjungan itu juga membawa pesan yang lebih luas: China dapat berinteraksi dengan Washington di level tertinggi tanpa melonggarkan keselarasan strategisnya dengan Moskow.

Ivanov mengatakan pertemuan dengan Trump adalah “urusan diplomatik yang sangat serius dan berdampak besar”, yang bertujuan meredakan ketegangan sambil menampilkan China dan AS sebagai pihak yang setara.

Namun, para analis mengatakan logika di balik kedua kunjungan itu sangat berbeda.

“Motif Trump dan Putin dalam hubungan mereka dengan Xi dan Beijing sangat berbeda,” kata Clarke.

Bagi Trump, kunjungan itu terutama didorong tujuan perdagangan dan ekonomi, dibungkus dalam apa yang disebut Clarke sebagai “teater adidaya” dan simbolisme — termasuk penyambutan karpet merah resmi, penghormatan terhadap prestise kepresidenan, dan isyarat kemungkinan adanya kanal “G2” AS-China.

Bagi Putin, kunjungan itu terkait kebutuhan Rusia akan perlindungan diplomatik serta akses ke pasar dan teknologi China di tengah isolasi internasional relatif yang dihadapinya.

Ivanov mengatakan hubungan China dengan AS tetap “jauh lebih penting dan jauh lebih menentukan”, meskipun Rusia tetap menjadi mitra strategis yang krusial.

Rusia semakin menjadi pemain yang lebih kecil dalam segitiga ini, katanya, sementara hubungan AS-China terus membentuk garis besar utama politik dan ekonomi global.

Dalam konteks itu, kunjungan Putin lebih bersifat rutin bagi Beijing, tambah Ivanov, mengingat pemimpin Rusia tersebut memang sering berkunjung ke China.

Ini adalah kunjungan ke-25 Putin ke China sejak pertama kali berkuasa pada tahun 2000, termasuk di masa jabatannya sebagai presiden maupun perdana menteri Rusia.

Kunjungan sebelumnya terjadi pada September tahun lalu, ketika ia menghadiri KTT Organisasi Kerja Sama Shanghai dan parade militer peringatan 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

Akan tetapi, para analis mengatakan bahwa rutinitas tidak berarti kunjungan tersebut tidak penting.

Bagi Moskow, kunjungan itu menegaskan kembali akses ke pasar China serta dukungan politik dari Beijing. Sementara bagi China, kunjungan tersebut memperkuat kemitraan yang membantu mendiversifikasi pasokan energi dan menyeimbangkan tekanan dari Amerika Serikat.

Kunjungan-kunjungan itu menunjukkan bahwa, “baik karena kebetulan maupun desain”, China memiliki pilihan dan dapat mempertahankan hubungan baik dengan Washington maupun Moskow, kata Dylan Loh, lektor kepala di School of Social Sciences, Nanyang Technological University.

“Keduanya tidak saling eksklusif,” ujarnya.

G2, TATANAN SEGITIGA, ATAU MULTIPOLAR?

Selain Trump dan Putin, serangkaian pemimpin lain — terutama dari Eropa — juga mengunjungi Beijing, menciptakan kesan bahwa banyak negara sedang berupaya mendekati China, tambah Loh.

Bagi Ivanov, kunjungan-kunjungan itu memperkuat citra China sebagai kekuatan besar yang keterlibatannya dicari baik oleh rival, mitra, maupun negara-negara yang mengambil posisi hati-hati.

Bagi Washington, pesannya adalah bahwa Beijing memiliki opsi strategis lain. Sementara bagi Moskow, Rusia tetap menjadi bagian sentral dari arsitektur diplomatik China yang lebih luas, katanya.

China dan Rusia juga berupaya membingkai pesan tersebut dalam istilah ideologis yang lebih luas. Dalam pernyataan bersama yang dirilis selama kunjungan Putin, kedua pihak menyerukan tatanan dunia yang lebih multipolar dan mengkritik apa yang mereka gambarkan sebagai unilateralisme serta konfrontasi blok.

Bahasa itu sejalan dengan upaya lama Beijing dan Moskow untuk menampilkan diri sebagai pembela tatanan dunia yang tidak terlalu didominasi AS dan sekutunya.

Para analis menegaskan Beijing tidak ingin terjebak dalam format “G2” AS-China, meskipun Trump tampaknya tertarik pada negosiasi tingkat pemimpin antara dua ekonomi terbesar dunia.

“Saya rasa China tidak terlalu menaruh perhatian pada gagasan G2,” kata Loh.

“Kebijakan yang mereka deklarasikan selalu mengenai tatanan multipolar,” tambahnya.

Li Yaqi, asisten peneliti hubungan internasional di S Rajaratnam School of International Studies, mengatakan, gambaran sebenarnya lebih rumit daripada sekadar ya atau tidak.

G2 yang bersifat institusional — di mana AS dan China mengoordinasikan tata kelola global terkait stabilitas keuangan, iklim, pandemi, dan barang publik — “bukanlah sesuatu yang sedang muncul”, katanya.

“Trump menyukai bahasa G2 karena memberinya fleksibilitas dalam membuat kesepakatan dan kontrol personal,” ujarnya.

Namun, Beijing menolak istilah tersebut karena tidak ingin dipandang sedang membentuk semacam kondominium kekuatan besar dengan Washington, tambah Li.

Hal itu berisiko menciptakan ekspektasi bahwa China harus ikut memikul beban pengelolaan tatanan global, sekaligus dapat membuat negara-negara Global South merasa tidak nyaman.

Yang lebih mungkin muncul adalah bentuk G2 yang lebih tipis dan transaksional, dibangun di atas negosiasi tingkat pemimpin, pengelolaan krisis secara selektif, dan pembatasan tertentu di beberapa bidang, kata Li.


Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping menghadiri pertemuan bilateral di Aula Besar Rakyat di Beijing, Tiongkok, pada 20 Mei 2026.


Ivanov menyampaikan, China merasa tidak nyaman dengan framing publik mengenai G2 karena bahasa strategisnya sendiri dibangun di atas konsep multipolaritas.

Namun, dalam praktiknya, Beijing “cukup nyaman” memiliki status yang lebih tinggi bersama AS dibanding sebagian besar negara lain, katanya.

“Rusia adalah pemain kecil dalam segitiga ini,” ujar Ivanov. “Pada akhirnya, hubungan AS dan China-lah yang membentuk geopolitik modern.”

Jonathan Ping, lektor kepala di Bond University, Australia, menuturkan, framing G2 sejauh ini masih lebih banyak berupa retorika dibanding kenyataan.

Tidak mungkin muncul pengaturan formal semacam itu, katanya, meskipun beberapa elemen de facto memang ada karena AS dan China terpaksa mengelola krisis secara bilateral akibat pengaruh dan ketergantungan timbal balik mereka.

Chong Ja Ian, lektor kepala di National University of Singapore, mengatakan: “Banyak hal akan bergantung pada apa yang ingin dilakukan aktor besar lain, seperti Uni Eropa, India, Jepang, dan lainnya.”

Jika para aktor tersebut menyerahkan pengaruh mereka, dominasi Washington dan Beijing bisa semakin besar, kata Chong. Namun, risikonya adalah fragmentasi yang lebih besar ketika kedua pihak melakukan de-risking dan decoupling di bidang perdagangan, investasi, dan teknologi.

Dalam konteks itu, kunjungan beruntun tersebut tidak serta-merta menunjukkan terbentuknya duopoli AS-China.

Sebaliknya, kata para analis, hal itu menunjukkan Beijing berupaya menjalankan dua jalur sekaligus: mengelola rivalitas yang paling penting, sambil mempertahankan kemitraan yang memberinya ruang bermanuver.

Seperti dikatakan Chong, AS dan China memang “sangat menentukan”, tetapi “mereka tidak dapat mengarahkan dunia sendirian ataupun bersama-sama — setidaknya belum”.


0 komentar:

Posting Komentar

Bagaimana Kunjungan Beruntun Trump dan Putin Menempatkan China di Pusat Diplomasi Kekuatan Besar

Presiden Rusia Vladimir Putin dan Presiden China Xi Jinping berjabat tangan usai pertemuan di Balai Agung Rakyat, Beijing, 20 Mei 2026. Pres...