SensorNewsMedia.Id. Ustadz Abdul Somad (UAS) hadir langsung sebagai saksi meringankan di Pengadilan Tipikor pada Pengadilan Negeri Pekanbaru, Kamis (18/6/2026). Dalam persidangan kasus dugaan korupsi yang menjerat Gubernur Riau nonaktif, Abdul Wahid, dai kondang tersebut membeberkan cerita di balik penunjukan SF Hariyanto sebagai Wakil Gubernur Riau.
UAS mengungkapkan bahwa SF Hariyanto bukanlah pilihan pertamanya untuk mendampingi Abdul Wahid dalam Pilgub Riau.
Tiga Nama Awal yang Diusulkan UAS
Di hadapan majelis hakim yang diketuai Delta Tamtama, UAS menceritakan bahwa dirinya sempat mengajukan kesepakatan dakwah sebanyak 16 poin kepada Abdul Wahid. Sebagai imbal balik dukungan penuhnya, UAS mengusulkan tiga nama tokoh berlatar belakang pesantren untuk menjadi calon wakil gubernur:
- Mawardi Saleh
- Zukri Misran
- Muhammad Harris
"Jadi Pak Wahid bisa memperjuangkan ke pusat, sementara wakil bisa menjaga di daerah. Ketiganya ini adalah orang pesantren," ujar UAS di persidangan.
UAS bahkan sempat menyiapkan selebaran (flyer) kampanye pasangan Abdul Wahid-Mawardi Saleh dengan jargon 'Abdi Riau'. Namun, rencana tersebut urung terwujud. Sementara itu, nama lain seperti Zukri Misran menolak usulan tersebut karena memilih fokus mencalonkan diri sebagai Bupati Pelalawan untuk periode kedua.
Alasan Memilih SF Hariyanto
Setelah opsi-opsi awal tersebut kandas, Abdul Wahid akhirnya menjatuhkan pilihan kepada SF Hariyanto, yang saat itu merupakan birokrat senior di Riau. UAS mengaku keputusan ini sempat membuatnya merasa berat untuk ikut mengampanyekan pasangan tersebut.
"Awalnya serasa berat mengampanyekannya karena saya mau sepasang dengan yang ada di pikiran saya," aku UAS. Namun, Abdul Wahid meyakinkan UAS bahwa SF Hariyanto adalah sosok yang tepat untuk roda pemerintahan. Pasangan
Abdul Wahid dan SF Hariyanto kemudian memenangkan kontestasi dan dilantik pada Februari 2025.
Keretakan Hubungan Pasca-Pelantikan
Selain menceritakan awal mula pembentukan pasangan tersebut, kesaksian UAS juga menyoroti keharmonisan keduanya yang mulai renggang setelah menjabat. UAS mengungkapkan sempat diundang oleh SF Hariyanto untuk bertemu di sebuah kafe di Jalan Kartini, Pekanbaru.
Dalam pertemuan itu, SF Hariyanto mengeluhkan masalah internal pemerintahan, termasuk penempatan jabatan Sekretaris Daerah (Sekda) serta aktivitas salah satu tenaga ahli Abdul Wahid, Dani M. Nursalam, yang diduga melakukan pengutipan uang.
"Itu supaya saya sampaikan ke Pak Abdul Wahid, karena hubungan mereka sudah mulai renggang," tutur UAS memberi kesaksian.
0 komentar:
Posting Komentar