Senin, 13 Juli 2026

Kisah Haru Warga Lampung Patungan Bangun Sekolah: Hanya Beratap Nipah dan Berdinding Kayu

 

Suasana SDN 1 Tanjung Raja

SensorNewsMedia.Id - Tanggamus. Semangat gotong royong dan tekad kuat demi masa depan anak-anak ditunjukkan secara nyata oleh warga pedalaman Pedukuhan Batu Nyangka, Pekon Tanjung Raja, Kecamatan Cukuh Balak, Kabupaten Tanggamus, Lampung. Tak rela melihat anak-anak mereka kehilangan kesempatan belajar, warga yang mayoritas bekerja sebagai petani miskin rela patungan uang dan tenaga untuk mendirikan bangunan sekolah dasar secara swadaya.

Sebelum memiliki ruang kelas sendiri, belasan anak di wilayah terpencil ini terpaksa harus belajar secara berpindah-pindah dari satu rumah ke rumah warga lainnya secara bergantian.
Bermula dari Patungan Tanah Rp1,5 Juta
Melihat jumlah anak-anak usia sekolah yang terus bertambah, kekhawatiran warga akan buta aksara di kampung mereka kian memuncak. Karena tidak adanya fasilitas dari pemerintah setempat, para orang tua akhirnya bersepakat untuk mengambil tindakan nyata.
"Dulu anak-anak masih belajar menumpang di rumah warga. Setelah murid mulai banyak, kami gotong royong mengumpulkan uang patungan sebesar Rp1.500.000 untuk membeli sepetak tanah," ungkap Tokoh Masyarakat Batu Nyangka, Junaidi, Senin (13/7/2026).
Setelah tanah berhasil dibeli, warga langsung membuatkan surat resmi dan menghibahkannya kepada pemerintah daerah. Langkah hibah ini sengaja ditempuh agar status lahan sekolah memiliki kekuatan hukum, sekaligus membuka peluang besar bagi sekolah untuk mendapatkan bantuan fasilitas dari negara di masa mendatang.
Angkut Kayu Hutan dan Menganyam Atap Daun
Keajaiban gotong royong berlanjut pada proses pembangunan fisik kelas jauh SDN 1 Tanjung Raja tersebut. Tanpa menggunakan anggaran sepeser pun dari proyek kedinasan, para petani masuk ke dalam hutan untuk menebang dan mengangkut kayu bulat secara manual sebagai tiang serta dinding sekolah.
Sementara untuk bagian peneduh, warga mengumpulkan daun kirai dan daun nipah dari tepi sungai untuk dianyam menjadi atap pelindung terik. Bangunan gubuk sederhana yang sangat jauh dari kata layak ini akhirnya resmi berdiri dan langsung digunakan belajar, meski pada awalnya hanya mampu menampung enam orang murid saja.
"Sangat sederhana, tiangnya dari kayu bulat dan atapnya dari daun nipah hasil kerja bakti masyarakat. Belakangan atapnya kami ganti seng secara bertahap karena anak-anak mengeluh kepanasan kalau siang hari akibat bangunan tidak punya asbes," tambah Junaidi.
Berjuang Tanpa Listrik, Internet, dan Buku Layak
Kisah pilu pendidikan di pedalaman Lampung ini tidak berhenti pada urusan bangunan semata. Demi memastikan proses belajar mengajar berjalan rutin, para orang tua murid bahkan sempat patungan menyisihkan uang dari hasil tani untuk membayar gaji guru secara swadaya.
Hingga pertengahan tahun 2026 ini, potret keterbatasan masih membayangi sekolah swadaya ini:
  • Nir-Digital: Sekolah sama sekali belum memiliki akses jaringan listrik maupun koneksi internet.
  • Fasilitas Minim: Ruang perpustakaan tidak tersedia, dan jumlah buku paket pelajaran sangat terbatas untuk dibagikan ke siswa.
  • Akses Terisolasi: Jalan menuju lokasi sekolah masih berupa tanah merah berbatu yang sulit ditembus kendaraan saat musim hujan.
Masyarakat Batu Nyangka kini hanya menggantungkan satu harapan besar kepada Kementerian Pendidikan maupun Dinas Pendidikan terkait, agar fasilitas sekolah swadaya yang telah mereka rintis ini segera divalidasi, direnovasi secara permanen, dan mendapatkan hak keadilan pendidikan yang setara layaknya anak-anak di perkotaan.

0 komentar:

Posting Komentar

Kapolres Asahan Pimpin Apel Kehormatan HUT Ke- 81 RI di TMP Kota Kisaran Asahan

  SensorNewsMedia.Id - Asahan.  Memperingati hari ulang tahun (HUT) ke 81 kemerdekaan republik Indonesia tahun 2016 , polres asahan bersama ...