- Kematian yang Terlalu Mendadak: Sebelum insiden, Sutrimo diketahui dalam kondisi sehat, normal, dan tidak sedang mengidap penyakit berat atau dirawat di rumah sakit. Kurang dari 14 jam sebelum jasadnya ditemukan, ia bahkan masih terlihat berinteraksi secara normal dengan warga di depan klinik.
- Kondisi Fisik Jasad: Temuan busa yang keluar dari mulut dan hidung memicu indikasi adanya zat luar atau racun yang masuk ke tubuh korban.
- Firasat Sebelum Meninggal: Berdasarkan keterangan pihak keluarga di kampung halamannya, Desa Wlahar, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Sutrimo sempat pulang kampung sebelum tewas dan bercerita bahwa dirinya "sedang menghadapi masalah besar di Jakarta".
- Proses Pengantaran Jenazah yang Misterius: Jenazah korban diantar menggunakan ambulans ke Banyumas secara terburu-buru pada malam hari. Rombongan pengantar langsung pergi setelah setengah jam dan tidak menyerahkan barang-barang pribadi penting milik korban, seperti telepon genggam (HP).
Selasa, 04 Agustus 2026
Menguak Kejanggalan Tewasnya Sutrimo, Penjaga Rumah Febrie yang Jadi Saksi Kunci Nomor Satu
By SENSORNEWS at Agustus 04, 2026
No comments
SensorNewsMedia.Id - Jakarta. Misteri kematian Sutrimo (42), pria yang bekerja sebagai Kepala Rumah Tangga (Karumga) sekaligus pramuwisma mantan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Febrie Adriansyah, kian penuh tanda tanya besar. Di tengah bergulirnya penyidikan megakorupsi dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) yang menjerat mantan atasannya, Sutrimo justru ditemukan tewas dalam kondisi tidak wajar. Publik kini menyoroti adanya dugaan kuat upaya "pemutusan mata rantai kejahatan" atau pembungkaman terhadap saksi kunci.
Sutrimo ditemukan tidak sadarkan diri pada Kamis pagi, 23 Juli 2026, di halaman Mordent Aesthetic Clinic, sebuah bangunan klinik kecantikan yang terbengkalai di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Saat ditemukan sekitar pukul 09.00 WIB, mulut dan hidungnya dilaporkan mengeluarkan cairan berbusa.
Hanya berselang dua menit dari penemuan itu, ia langsung dievakuasi menggunakan ambulans menuju RS Muhammadiyah Taman Puring. Namun, pihak rumah sakit menyatakan korban telah meninggal dunia sebelum sempat menerima tindakan medis (death on arrival).
Mengapa Sutrimo Menjadi Saksi Sangat Penting?
Sebagai orang dalam yang mengelola operasional rumah tangga Febrie Adriansyah selama puluhan tahun, Sutrimo dinilai memegang rahasia krusial. Posisinya dianggap sebagai saksi nomor satu karena ia mengetahui secara detail seluruh aktivitas harian, tamu yang berkunjung, hingga aset di kediaman Febrie.
Kasus ini kian sensitif lantaran lokasi penemuan jasad Sutrimo hanya berjarak 800 meter dari kediaman Febrie. Lokasi tersebut juga berdekatan dengan area penemuan barang bukti valuta asing senilai ratusan miliar rupiah serta emas batangan seberat 74 kilogram hasil penggeledahan yang dilakukan oleh Korps Tindak Pidana Korupsi Polri. Status Febrie sendiri saat ini telah resmi ditahan sebagai tersangka oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
"Dalam skema grand corruption, pelaku kerap memperhitungkan risiko, salah satunya dengan mengendalikan atau mengeliminasi saksi potensial agar mata rantai kasus terputus," ujar pengamat hukum dalam berbagai diskusi publik baru-baru ini.
Rentetan Kejanggalan yang Disorot
Mantan Kabareskrim Polri, Komjen Pol (Purn) Susno Duadji, bersama sejumlah pakar hukum pidana menyoroti beberapa kejanggalan dalam insiden ini:
Polisi Libatkan Puslabfor dan Periksa Lima Saksi
Merespons kegaduhan publik, Polda Metro Jaya bersama Polres Metro Jakarta Selatan memastikan bahwa penyelidikan intensif masih berjalan. Penyidik telah menggandeng tim Pusat Laboratorium Forensik (Puslabfor) Bareskrim Polri untuk menguji sampel busa dan rekam medis korban.
"Kami sudah memeriksa lima orang saksi. Saksi-saksi tersebut meliputi pihak yang mengenal dan terakhir kali melihat korban hidup pada Rabu malam, pengemudi ambulans pengevakuasi, hingga pengemudi ambulans yang membawa jenazah ke Banyumas," ujar Kabid Humas Polda Metro Jaya, Kombes Pol Budi Hermanto, dalam keterangan resminya.
Polisi juga mengumpulkan rekaman kamera pengawas (CCTV) di sepanjang rute perjalanan korban dan mengagendakan pemeriksaan klarifikasi terhadap dokter IGD RS Muhammadiyah Taman Puring yang pertama kali menerima jasad Sutrimo. Sementara itu, pihak kuasa hukum Febrie Adriansyah memilih irit bicara dan mengaku hanya memantau kasus kematian ini melalui pemberitaan di media massa.
Desakan agar Polri melakukan tindakan tegas berupa eksumasi (pembongkaran makam) dan otopsi menyeluruh tanpa perlu menunggu persetujuan keluarga terus menguat demi transparansi hukum. Publik kini menanti hasil uji laboratorium forensik untuk membuktikan apakah tewasnya sang pemegang rahasia rumah Febrie ini murni karena masalah kesehatan ataukah bagian dari operasi pembungkaman saksi.
Kapolres Asahan Pimpin Apel Kehormatan HUT Ke- 81 RI di TMP Kota Kisaran Asahan
SensorNewsMedia.Id - Asahan. Memperingati hari ulang tahun (HUT) ke 81 kemerdekaan republik Indonesia tahun 2016 , polres asahan bersama ...
0 komentar:
Posting Komentar