Jumat, 29 Mei 2026

Makanan MBG Kini Bisa 'Dirating', Ini Yang Akan Dinilai

 

Dashboard aplikasi Reviu MBG. (Dok. Badan Gizi Nasional)


SensorNewsMedia.Id - Jakarta. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini dilengkapi sistem evaluasi berbasis aplikasi yang memungkinkan sekolah, posyandu, dan pesantren menilai kualitas makanan yang diterima setiap hari.

Badan Gizi Nasional (BGN) meluncurkan aplikasi bernama Reviu MBG pada Selasa (26/5) untuk memantau kualitas distribusi dan makanan yang diterima para penerima manfaat.

Wakil Kepala BGN Bidang Operasional Pemenuhan Gizi Sony Sonjaya menjelaskan, aplikasi tersebut dirancang agar evaluasi terhadap makanan dapat dilakukan secara langsung saat makanan diterima.

“Aplikasi ini bertujuan untuk meningkatkan awareness perhatian yang sungguh-sungguh pada seluruh SPPG, pengawas gizi, dan mitra,” tutur Sony dikutip dari laman resmi BGN.

BGN akan menunjuk person in charge (PIC) di setiap lokasi penerima manfaat untuk menggunakan aplikasi tersebut.

PIC terdiri dari guru sekolah, kepala posyandu, hingga pengurus pondok pesantren yang menerima distribusi MBG.

MAKANAN DINILAI DARI EMPAT PARAMETER

Melalui aplikasi Reviu MBG, para PIC dapat memberikan penilaian berdasarkan empat parameter utama.

Keempat parameter tersebut meliputi ketepatan waktu distribusi makanan, aroma makanan, rasa makanan, serta variasi menu dibandingkan hari sebelumnya.

Menurut Sony, proses penilaian dilakukan langsung ketika makanan tiba sehingga hasil evaluasi dapat diperoleh lebih cepat.

“Ketika MBG datang, kemudian PIC melakukan penilaian apakah MBG datang tepat waktu atau tidak. Yang kedua melakukan tes organoleptik, dilakukan penciuman,” ucapnya.

Selain aroma, makanan juga dicicipi untuk memastikan kualitas rasa dan mendeteksi kemungkinan makanan basi atau tidak layak konsumsi.

BGN juga ingin memastikan penyedia makanan tidak menyajikan menu yang monoton secara berulang.

“PIC melakukan penilaian jangan sampai menu yang disajikan oleh satu SPPG itu kemarin telur dadar, hari ini telur rebus, hari Rabu telur balado, akhirnya telur terus,” lanjut Sony.

Hasil penilaian tersebut nantinya akan menjadi indikator evaluasi atau Key Performance Indicator (KPI) bagi masing-masing Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

BGN juga menyiapkan dashboard pemantauan yang dapat diakses publik.

Data dashboard Reviu Menu MBG per Sabtu (23/5) pukul 21.31 WIB menunjukkan sebanyak 1.707 laporan telah masuk dari berbagai wilayah.

Sebanyak 1.705 laporan atau 99,88 persen menyatakan makanan layak dikonsumsi. Sementara dua laporan lainnya menyebut makanan tidak layak konsumsi.

Dari sisi distribusi, tingkat ketepatan waktu penyaluran makanan tercatat mencapai 97,95 persen. Sebanyak 1.672 laporan menyebut makanan diterima tepat waktu atau lebih awal, sedangkan 35 laporan mencatat adanya keterlambatan distribusi.

Penilaian terhadap kualitas makanan juga menunjukkan hasil positif. Aroma makanan dinilai layak dalam 1.702 laporan atau sekitar 99,71 persen.

Dari aspek rasa, sebanyak 1.688 laporan atau 98,89 persen menyebut makanan memiliki rasa normal dan dapat diterima dengan baik oleh penerima manfaat.

Sementara itu, tampilan makanan mendapat penilaian layak dalam 1.697 laporan atau 99,41 persen dari total laporan yang masuk.

Sony menegaskan, aplikasi Reviu MBG pada tahap awal belum digunakan sebagai dasar pemberian sanksi kepada SPPG.

Fokus utama BGN saat ini adalah membangun budaya evaluasi dan meningkatkan kesadaran seluruh pelaksana program untuk menjaga kualitas makanan.

“Belum ada sanksi. Saat ini fokusnya awareness dulu. Kalau awareness sudah meningkat, diharapkan tidak perlu sampai ada sanksi,” ucapnya.

Peluncuran aplikasi ini dilakukan di tengah evaluasi program MBG setelah pemerintah memangkas anggaran dari Rp335 triliun menjadi Rp268 triliun.

Pemangkasan tersebut berdampak pada pengurangan frekuensi distribusi MBG bagi sebagian sekolah dari enam hari menjadi lima hari per minggu.

Namun, kebijakan tersebut tidak berlaku bagi sekolah yang masih menerapkan enam hari belajar, termasuk sekolah di daerah tertinggal, terdepan, terluar (3T), dan wilayah dengan angka stunting tinggi.

Sementara pada akhir pekan atau hari libur sekolah, distribusi MBG akan diprioritaskan untuk ibu hamil, ibu menyusui, dan balita.

0 komentar:

Posting Komentar

MELALUI PROGRAM DTDA, FSB KIKES KSBSI JALIN KEMITRAAN STRATEGIS GUNA PERKUAT HUBUNGAN INDUSTRIAL

SensorNewsMedia.Id - Sebagai wujud nyata penguatan kapasitas, dialog sosial dan hubungan industrial. DPC FSB KIKES KSBSI Tangerang Raya suk...